Disaat jaman kejayaan British Pop tahun 90'an, banyak band-band bermunculan dengan tipikal yang mirip, seperti sudah ada aturan untuk itu. Namun kemunculan Mogwai di pertengahan 90'an yang menyajikan lagu berdurasi 15 menit dengan tekstur gitar yang dinamis membuat Mogwai sedikit menjadi sorotan saat itu. Hingga 15 tahun kemudian setelah mereka sudah mempunyai enam album dan delapan EP, mereka kembali lagi dengan merilis album yang ke tujuh dengan judul yang cukup unik melihat usia band Mogwai, "Hardcore Will Never Die, But You Will". Bisa dibilang, album ke tujuh ini merupakan album dan tahun-tahun terbaiknya, hampir disetiap tur mereka tiket nyaris selalu Sold Out, walaupun hampir semua teman-teman kalian banyak yang tidak tau siapa itu Mogwai.
Beruntunglah para pecinta musik Post-Rock di Indonesia memiliki kesempatan untuk menyaksikan aksi panggung dengan tata cahaya dahsyat dan sound yang siap membisingkan telingan kalian. Bertempat di Dago Tea House Bandung (4.12.11), Mogwai menghangatkan malam itu dengan 15 lagu penuh distorsi dan efek suara yang tak beraturan namun brilian. Penonton yang tadinya duduk pun diminta berdiri oleh panitia karena penonton yang baru datang kesulitan untuk memasuki venue. "Halo Bandung! We're Mogwai, it's glad to be here" Sorakan penonton pun memenuhi seisi ruangan malam itu, dan lagu "White Noise" dari track pertama album Hardcore Will Never Die, But You Will pun membuka acara malam itu. Dimulai dengan petikan gitar Stuart Braithwaite lalu tata cahaya yang sudah diatur sangat terang dan pantulan-pantulan suara gitar dilapis distorsi ringan langsung menghipnotis seisi ruangan yang dipenuhi kurang lebih 1000 orang.
Tidak hanya dari album terakhir mereka, tetapi lagu-lagu dari album The Hawk Is Howling seperti "I'm Jim Morrison, I'm Dead" pun dipilih sebagai lagu ke-tiga untuk tetap menjaga klimak penampilan dari rangkaian emosi, yang memang malam itu semua penonton sudah merasa takjub akan ketebalan tekstur gitar yang dikeluarkan. Setelah itu, Mogwai pun langsung menggeber dengan satu lagu andalan lainnya dari album Hardcore Will Never Die, But You Will - "Rano Pano", sontak teriakan penonton yang berada di lini depan. Lagu Rano-Pano ini memang terasa sangat tebal soundnya dibanding lagu lainnya dialbum terakhir Mogwai, sehingga banyak yang menjadikan lagu Rano Pano menjadi salah satu lagu favorit.
Tepat sebelum lagu San Pedro dibawakan, Mogwai juga membawakan lagu dari album lamanya ditahun 2003 yaitu "I Know You Are but what am i?" dari album Happy Song For Happy People. Tanpa basa-basi, lagu San Pedro pun langsung dimainkan, teriakan penonton langsung disusul dengan irama anggukan kepala yang mengikuti tempo irama lagu San Pedro. Mogwai cukup banyak membawakan lagu-lagu lamanya seperti "Mogwai Fear Satan" (1997), "2 Right Make 1 Wrong" (2001), Selain lagu "I Know You Are But What Am I?" dari album Happy Songs for Happy People, Mogwai juga membawakan lagu yang berbeda dari album yang sama yaitu "Hunted By Freak". Dan semua luar biasa, sedikit sulit untuk menuangkan detil acara malam itu, tata cahaya yang memang bukan sekedar menyala saja itu membuat atmosfer tetap memuncak hingga dilagu "Mogwai Fear Satan" yang sudah memasuki lagu ke 11. Ledakan-ledakan cahaya mengikuti perpindahan tempo lambat yang hanya di-isi petikan kecil gitar itu sekejap disulap menjadi suara bising dipadu dengan cahaya putih yang menyolok mata, suara bising tetap memenuhi ruangan hingga terucap kalimat penutup dari Stuart Braithwaite yang disusul dengan lambaian bir ke arah penonton sambil meninggalkan panggung.
"We Want More, We Want More, We Want More!!!"
Teriakan penonton yang tidak mau meninggalkan tempat acara malam itu, teriakan pun semakin kencang saat kru dari Mogwai kembali menyiapkan alat dan para personil memasuki panggung kembali. Helicon, Autorock dan Batcat pun dipilih untuk menutup acara malam itu yang memang menjadi salah satu band dengan sound terbaik di tahun 2011 ini dan didukung dengan Mogwai yang berada dalam puncak permainannya. (bagus)
Showing posts with label Review. Show all posts
Showing posts with label Review. Show all posts
Sunday, 4 December 2011
Friday, 27 May 2011
YUNA - Cantik & Menawan
Waw, cantik sekali! Itu lah yang terucap tanpa sadar oleh saya saat pertama mendengar EP dari Yunalis Zarai atau yang lebih dikenal Yuna, Gadis berjilbab asal Alor Setar, Malaysia yang juga menulis semua lagunya dengan sangat cantik dan menawan.
Semua karyanya dimulai saat dia berusia 14 tahun, dia mulai menulis lagu demi lagu sampai akhirnya dia memutuskan untuk belajar menggunakan alat musik gitar pada usia 19 tahun dan ditahun itu juga adalah penampilan Yuna yang pertama, sejak saat itu Yuna mulai banyak bermain diacara musik yang bertema akustik hingga tahun 2006. Dan Yuna juga merilis EP pertamanya ditahun 2006 yang berisi lima lagu yang bercampur bahasa inggris dan malaysia. Hingga pada awal tahun 2011 kemarin Yuna resmi menandatangani kontrak dengan Record Label US, Fader Label. Dan dibulan berikutnya dia resmi merilis EP keduanya berjudul Decorate. Sekedar info, EP yang kedua ini juga berjudul Decorate, sama seperti album yang ia keluarkan ditahun yang sama tetapi materi didalamnya berbeda.
Dipengaruhi oleh Feist, The Cardigans, Coldplay, Sia dan Bob Dylan, musik Yuna memang berada satu level dibawahnya tetapi itu terlihat lebih segar dan menawan dalam kesederhanaan aransement dilagu-lagunya. Entah kenapa saya lebih suka musik yang Yuna mainkan ketimbang penyanyi-penyanyi perempuan asal indonesia seperti Duo ini, Duo itu, Duo Dowi dll.
Yuna memang bersolo karir saat memulai karirnya, tapi setelah dia memutuskan untuk membuat sebuah band, justru itu lebih membuat musik Yuna hidup, tidak merubah musiknya tetapi mempercantiknya dengan bantuan teman-temannya. Setidaknya nuansa band dan khas petikan gitar Yuna masih terasa dilagu-lagunya.
Yuna - Decorate (EP) by Yuna Music
~serigala wanita~
Wednesday, 25 May 2011
Within The Ruins - EP OMEN - Include Metallica & Kansas Cover
Within The Ruins, satu dari banyak band yang bawahi oleh Victory Record dan Within The Ruins sendiri menjadi salah satu band andalannya. Setelah sukses merilis album "Invade" di pertengahan agustus kemarin, Within The Ruins tidak bernafas lama, ternyata mereka langsung tancap gas untuk menyiapkan materi baru yang isu-nya sudah mereka angkat dari beberapa bulan yang lalu. Dan terciptalah "Omen" sebuah EP yang berisi dua lagu yang orisinil dan dua lagu cover dari Kansas - Carry On My Wayward Son dan Metallica - Fight Fire With Fire. Lagu pertama dari EP ini adalah "Controller", lagu yang cukup menyentak ini terasa cukup atmospheric yang diawali ledakan tempo yang cukup cepat dari kebanyak lagu-lagu Whitin The Ruins. Dan lagu diurutan ke dua ada "Infamy" lagu yang menurut saya ini merupakan lagu terbaik mereka di EP yang baru mereka keluarkan ini. Bagaimana tidak, susunan komposisinya yang cukup fresh dan menghibur jika dilihat dari lagu-lagu yang berada di album Invade, lagu ini bisa memberikan candu untuk memutar dan memutarnya kembali jika kalian penggemar musik progresive metal.
Dan tentunya hal yang tidak saya lewatkan selain dua lagu di atas adalah lagu Carry On My Wayward Son dari Kansas yang cukup berbeda dari karakter aransement lagu Within The Ruins yang membawakannya dengan ciri khas ketukan patah-patah dan tanggung, yang tentunya bunyi gitar 7 string nyaring terdengar di pertengahan lagu. Dan lagu Fight Fire With Fire Metallica juga dirasa sangat nyaman didengar, lantaran dibuka dengan kocokan gitar yang super cepat dan disusul oleh hentakan cymbal yang terdengar tidak terlalu keras. Namun sayang karakter vokal dilagu ini agak terdengar sedikit maksa ketimbang lagu Kansas yang mereka kover dan melodi terdengar sedikit aneh. Overall, EP ini sangat saya rekomendasikan.
Sunday, 8 May 2011
The Tallest Man on Earth - Serak, Berdengung dan Cracky
Songwriter asal Swedia yang menyebut dirinya dengan "The Tallest Man on Earth" ini memiliki musik yang cukup membuat saya merasakan berada di zona "nyaman" yang lama. Dengan menggunakan suara yang serak, berdengung dan cracky, The Tallest Man on Earth (TTMOE) jelas terlihat mengacu pada struktur lagu-lagu folk 60an - kord dasar, petikan dan menjauhi chorus didalam lagunya. Adalah Kristian Matsson yang ada dibalik itu semua, pria kelahiran 30 April 1983 ini banyak dibicarakan orang mengenai dua hal, seberapakah tingginya dan seberapa miripkah dia dengan Bob Dylan. Saya berusaha menjawab didalam blog ini walaupun itu sebenarnya tidak perlu untuk dijawab, sebenarnya dia tidak memiliki tinggi badan yang bisa dianggap sebagai orang tertinggi didunia dan mungkin begitu jika mendengar beberapa lagunya terlintas di otak kalian "ini Bob Dylan?" tetapi tolong jangan terlalu cepat merendahkannya.
TTMOE mulai dikenal saat tiket konser dari Bon Iver habis terjual di New York City's Town Hall di akhir 2008, beberapa fans dari Bon Iver mempunyai ekspektasi yang buruk terhadap opening Bon Iver, yaitu TTMOE. Tetapi malam itu penonton tidak hanya puas menonton Bon Iver, tetapi TTMOE sedikit menyita perhatian para pecinta musik folk dan itu berlanjut kerangkaian tur Bon Iver dibulan desember yang memperkenalkan sesuatu yang spesial dan tak terlupakan: The Tallest Man on Earth.
Memang benar membahas TTMOE memang tidak lepas dari Bob Dylan, terutama awal-awal tahun Dylan, merdunya melodi dan lirik yang terdengar sangat agresif. Tetapi bila kalian mendengarkan TTMOE lebih dalam kalian akan merasakan energi yang terlempar dari setiap kata. Penuh intensitas dan emosi yang terasa baku, benar-benar tenggelam hanyut dilagu-lagunya.
Pada saat tulisan ini dibuat, TTMOE sudah mengeluarkan dua EP dan 2 album. Untuk para pecinta musik folk, kalian tidak boleh melewatkan sebuah proses karakter yang terbentuk TTMOE dari EP hingga album terakhirnya "The Wild Hunt". maaf sedikit emosi tulisannya hehehe
Love is All-The Tallest Man on Earth by I 'Aint No Dj
serigalawanita
Tuesday, 12 April 2011
The Damned Things - The Super Band (Rekomendasi Minggu ini 12/04)
Dan lagi-lagi playlist saya minggu ini dipenuhi oleh super band Heavy Metal asal amerika yang jika dilihat dari line-up memang pantas disebut sebagai "Super Band", The Damned Things. Band yang terbentuk sekitar pertengahan 2009 ini merupakan gabungan dari tiga band papan atas, seperti Keith Bucklet (vokal) dan Josh Newton (bass) dari Every Time I Die, Andy Hurley (gitar) dan Joe Trohman (gitar) dari Fall Out Boy, Scott Ian (gitar) dan Rob Caggiano (gitar) dari salah satu empat band Trash Metal terbesar dimuka bumi, Anthrax. Nama The Damned Things sendiri diambil dari lirik Black Betty yang berasal dari band rock amerika tahun 70an Ram Jam.
Pemikiran untuk membentuk band ini sudah muncul dari empat tahun lalu, ketika Joe dan Scott bertemu dan mereka mulai menulis lagu bersama, hingga mengajak Keith, Rob dan Andy untuk bergabung setelahnya. Penampilan pertama mereka mendapat respon baik dari penonton di The Knitting Factory, Brooklyn, Ney York pada juni 2010 kemarin. Dipenghujung 2010, The Damned Things resmi merilis album perdana mereka yang berjudul Ironiclast. Dengan riff dan sound yang kental akan Heavy/klasik rock, The Damned Things juga menyampurkan beberapa elemen dari latar belakang band masing-masing personil. Sekali lagi tidak salah jika saya menyebut The Damned Things sebagai The Super Band. :D
buat yang penasaran bisa coba dengar single yang berjudul "We've Got a Situation Here" dibawah ini
The Damned Things by user2163327
Website : the damned things
serigala wanita
Thursday, 7 April 2011
Alex Turner - Submarine (Soundtrack)
Pertengahan Maret 2011 kemarin, pentolan Arctic Monkeys, Alex Turner telah merilis debut solo pertamanya. Album yang sengaja dibuat untuk dijadikan soundtrack film Submarine ini berisis 6 lagu yang didominasi oleh musik acoustic guitar dan piano. Hebatnya lagi proses pembuatan album ini hanya dilibatkan tiga orang, Alex Turner senidir merekam lebih dari 3 alat musik seperti vokal, piano, keyboard, guitar, bass dan drum. Sementara di lagu "Hiding Tonight" dan "It's Hard to Get Around the Wind" dibantu oleh Bill Ryder Jones pada gitar, dan terakhir ada Owen Pallet sebagai composer ensemble untuk string di lagu "Piledriver Waltz". Jika kalian amati di lagu "Stuck on the Puzzle" yang dijadikan intro di album ini oleh Alex, kalian seakan terhanyut dalam lembutnya perpaduan antara petikan gitar dan piano yang cukup singkat tetapi sangat dalam. Bisa dibilang album ini seperti pelampiasan dari Alex atas ego-nya yang sangat menyukai lagu berkarakter akusik dengan penuh ambient, itu saya rasakan saat mendengar beberapa hits dari proyek sampingannya, The Last Shadow Puppet.
Kembali ke album Submarine, film Submarine sendiri diangkat dari debut novel Joe Dunthorne yang bercerita tentang anak berumur 15 tahun yang tengah berjuang untuk melepas keperjakaannya dan di saat yang sama dia harus tetap mempertahankan kedua orang tuanya agar tidak berpisah. Sangatlah tepat jika soundtrack ini di garap oleh Alex yang pandai bermain syair dan tentunya dengan aksen inggrisnya, lagu-lagu Alex dipercaya memperkuat karakter film inggris ini. bagus
Tuesday, 5 April 2011
Arcade Fire - The Suburbs (Ini Sebuah Nostalgia)
| foto : google.com |
Saya suka lagu ini! Terutama liriknya, banyak interpretasi yang terdapat didalam lagu ini. Saya tidak yakin apa itu, tetapi ketika mendengar lagu ini dengan seksama, ini mengingatkan saya akan lingkungan pinggiran kota jauh beberapa tahun yang lalu. Setidaknya lagu ini memberikan nostalgia tersendiri saat saya masih kecil, berlari-lari mengejar layangan atau sekedar menghabiskan waktu bersama teman-teman saya dulu. Dimulai dengan hentakan keras dari cymbal dan bass drum secara bersamaan dipadu dengan kocokan gitar akustik yang sangat sukses menghipnotis saya didetik pertama mulainya lagu The Suburbs ini. Memasuki pertengahan lagu terdengar samar-samar suara grand piano dan lantunan panjang violin yang membalut indahnya lagu ini, tentunya Arcade Fire tidak mengesampingkan lirik yang mereka tuangkan dilagu ini. This song is so good that it physically hurts. 4/5
Arcade Fire - The Suburbs by FixYou
serigala wanita
Monday, 4 April 2011
Misery Index - Heirs to Thievery Asian Tour 2011 (Kecepatan Penuh)
Seperti yang kalian ketehui, rangkaian Heirs to Thievery Asian Tour 2011 dari band asal Maryland, Amerika Serikat, Misery Index ini berakhir di Bulungan Outdoor Blok M, Jakarta Selatan, Minggu (3/4) malam. Setelah melakukan konser di 5 kota besar di Indonesia, seperti Surabaya (30/03), Makassar (31/03), Medan (01/04) dan Jogja (02/04) Misery Index (MI) sukses membuat para pecinta musik Deat Metal ibu kota mematung karena penampilan mereka. Band yang beranggotakan Jason Netherton (bass, vokal), Mark Kloeppel (gitar, vokal), Adam Jarvis (drum) dan Darin Morris (gitar) tampil setelah dibuka oleh beberapa band lokal seperti Siksa Kubur, Dead Vertical, Oshiego, Beside, Speed Zero Meter, Bleeding Corpse dan Empire Gates. Tepat setelah Siksa Kubur membawakan lagu terakhir, para penonton tampak mulai mendekati barikade pembatas panggung, tentunya karena hitungan menit MI akan segera memanaskan atmosfer malam itu dengan lagu-lagu mereka.
Setelah melakukan sound check sekitar 5 menit, tanpa banyak bicara MI langsung membawakan lagu-lagu mereka seperti Traitor, Conquistadores, Unmarked grave yang sentak membuat para penonton dibagian tengah venue melakukan head banging dan moshing secara brutal. "Apa kabar jakarta? Terimakasih untuk sambutannya" sapa Mark yang langsung mendapat respon dengan teriakan keras dan lambaian tangan oleh penonton. Band pecahan Dying Fetus ini juga tidak hanya membawakan lagu-lagu lamanya seperti dari album RETALIATE, DISCORDIA dan TRAITOR, tetapi mereka juga membawakan beberapa lagu barunya yang berasal dari album HEIRS TO THIEVERY. Ditengah-tengah konser MI menginformasikan pada penonton untuk merapatkan diri kebagian tengah venue karena Jarvis akan mengabadikan rangkaian terakhir tur mereka dengan memotret para penonton yang sudah bermaindikan keringat dengan kostum hitamnya.
Setelah melakukan sound check sekitar 5 menit, tanpa banyak bicara MI langsung membawakan lagu-lagu mereka seperti Traitor, Conquistadores, Unmarked grave yang sentak membuat para penonton dibagian tengah venue melakukan head banging dan moshing secara brutal. "Apa kabar jakarta? Terimakasih untuk sambutannya" sapa Mark yang langsung mendapat respon dengan teriakan keras dan lambaian tangan oleh penonton. Band pecahan Dying Fetus ini juga tidak hanya membawakan lagu-lagu lamanya seperti dari album RETALIATE, DISCORDIA dan TRAITOR, tetapi mereka juga membawakan beberapa lagu barunya yang berasal dari album HEIRS TO THIEVERY. Ditengah-tengah konser MI menginformasikan pada penonton untuk merapatkan diri kebagian tengah venue karena Jarvis akan mengabadikan rangkaian terakhir tur mereka dengan memotret para penonton yang sudah bermaindikan keringat dengan kostum hitamnya.
Suasana semakin memanas saat MI membawakan lagu lama mereka yang berasal dari EP pertama, Overthrow (2001) yaitu Manufacturing Greed. Hingga konser MI ini berakhir, satu penonton pun tidak ada yang mengeluh kecewa karena MI tidak memberikan tambahan lagu dan encore pun tidak terdengar dari mulut penonton karena MI menyajikan perform yang sangat luar biasa. Dengan berakhirnya acara ini, berakhir pula rangkaian Heirs to Thievery Asian Tour 2011 dari Misery Index, dan semoga mereka bisa kembali lagi ke indonesia dengan materi-materi yang lebih mengerikan dan tetap berkecepatan penuh.
foto & tulisan oleh Serigala Wanita
Wednesday, 23 March 2011
BILLFOLD - Hardcore Lembut ala Punk
Satu lagi formasi band cadas dengan line-up wanita meramaikan belantika musik indie dinegara kita. Band yang menyebut alirannya dengan nama Pop Punk Hardcore ini terbentuk diawal tahun 2010 dengan nama BILLFOLD yang beranggotakan Gania, Pam, Angga dan Ferin. Warna musik mereka tergolong cukup fresh, menyampurkan kerasnya musikHardcore dengan beat Punk yang ngebut tetapi masih tetap menyisakan kelembutan disana-sini yang berasal dari Gania (vokal).
Sepintas jika kalian mendengar musik mereka kalian akan merasa seperti ada penggabungan antara musik-musik hardcore baru seperti Set Your Goal dengan musik hardcore lawas seperti Warzone, H2O dll. Sambutan positif juga diterima oleh Billfold setelah mereka mengeluarkan single pertama mereka yang berjudul Destroy Without Hesitation pada akhir 2010 kemarin. Terbukti dari masuknya single mereka kebeberapa chart radio-radio di kota kembang. Karir yang baru mereka mulai ini langsung dituangkan kedalam mini album yang akan segera di rilis oleh record label mereka sendiri yang bernama Young Blood Music.
Buat yang penasaran dengan lagu Billfold bisa coba dengan single mereka dibawah ini yang berjudul Destroy Without Hesiitation.
Billfold - Destroyed Without Hesitation by musicbandung
Asal : Bandung
Genre : Pop/Punk/Hardcore
Website : myspace | purevolume
Aktif : 2010 - sekarang
Kontak : billfold.teamup@rocketmail.com
Sunday, 20 March 2011
Suede - Live & Rockin' (Super Saturday Night)
Live & Rockin - Jakarta International Expo arena PRJ Kemayoran, Sabtu (19/3/2011).
Tanpa sebuah sapaan panjang atau salam basa-basi, Suede langsung menjawab teriakan-teriakan para penonton dengan lagu dari hits lawas mereka "This Hollywood Life" dan dilanjutkan dengan "She" yang tentunya para penonton yang hadir malam itu sudah hafal diluar kepala dengan syair yang Suede miliki. Bagaimana tidak, tepat sebelum Suede memasuki panggung Mc menantang dua dari ribuan fans Suede untuk maju ke atas panggung dan menyanyikan lagu Suede dengan hanya diperlengkapi Mic saja. Salut untuk dua fans Suede yang berani maju kepanggung dan berani bernyanyi dihadapan ribuan fans Suede malam itu. Band alternative rock asal Inggris ini juga sukses membuat para penonton pulang dengan senyum yang lebar di acara Live & Rockin, walaupun sound yang dipakai sedikit acak-acakan untuk ukuran live di dalam ruangan, namun itu tidak mengurangi sorak kagum penonton saat mereka memainkan lagu-lagu dengan semangat walaupun usia mereka sudah tidak muda lagi. Bret Anderson (vokal) yang beberapa kali sempat mengucapkan kata "Terima kasih" dengan logat anehnya, membuat suasana malam itu semakin akrab yang ditambah dengan turunnya Bret Anderson ke depan barikade untuk sengaja bernyanyi sambil sesekali memegang uluran tangan para penonton Live & Rockin malam itu. Goyangan khas dari Bret Anderson membuat atmosfer dari lagu-lagu Suede semakin terasa menawan, terbukti saat Suede memainkan lagu "Everything Will Flow" yang iramanya berdayu-dayu membuat penonton ikut bernyanyi lepas. Dan tepat sebelum encore, Suede membawakan salah satu hits andalannya yang berjudul "Beatiful Ones" yang sentak membuat para penonton ikut bernyanyi, berteriak dan sambil sedikit melakukan loncatan-loncatan kecil untuk menyesuaikan irama lagu yang cukup nge-beat, dan konser pun dihentikan sejenak.
We Want More! We Want More! teriakan para penonton dengan serentak dan keras.
Dan beberapa menit kemudian Suede pun kembali keatas panggung. Bret dkk langsung membalas teriakan We Want More itu dengan dua buah lagu yaitu "lazy" dan "Saturday Night", yang tentunya lagu Saturday Night itu menjadi lagu yang cocok untuk menutup konser Suede dimalam minggu yang bertepatan dengan Supermoon atau bisa dibilang Super Saturday Night.
We Want More! We Want More! teriakan para penonton dengan serentak dan keras.
Dan beberapa menit kemudian Suede pun kembali keatas panggung. Bret dkk langsung membalas teriakan We Want More itu dengan dua buah lagu yaitu "lazy" dan "Saturday Night", yang tentunya lagu Saturday Night itu menjadi lagu yang cocok untuk menutup konser Suede dimalam minggu yang bertepatan dengan Supermoon atau bisa dibilang Super Saturday Night.
Foto dan Tulisan oleh Serigala Wanita
Thursday, 3 March 2011
Andre Harihandoyo & Sonic People - Sebuah Bentuk Kecintaan
Andre HariHandoyo yang lebih dikenal sebagai Singger-Songwriter ini mengawali karirnya sebagai music producer, yang tentunya lebih banyak berada dibelakang layar. Semua dimulai dari bisnis yang digeluti yaitu sebuah Boutique Guitar Effect yang didirikan waktu ia berumur 21 dan ia beri nama JJ Costum Boutique Pedal. Usahanya ini adalah hasil murni penyaluran hobi Andre dengan membuat berbagai macam prosesor audio untuk gitar elektrik yang terus berkembang dan menjadi sebuah produk yang dikenal luas. Dan cukup banyak juga para musisi papan atas indonesia seperti Eross SO7, Eet Sjahranie, Rama Satria, Iman JRocks, Sony JRocks, EndahNRhresa, Adhitia Sofyan dan masih banyak lagi lainnya yang menggunakan pedal buatan andre ini, yang ia beri nama Tube Braker.
Ditahun 2006 andre muluncurkan album solonya yang berjudul Aerodyne sebagai bentuk kecintaannya pada musik yang dilanjutkan dengan membentuk sebuah band yang dikenal sebagai Andre Harihandoyo & Sonic People dan merilis album yang berjudul Room Session pada 2007. Karyanya tidak hanya sampai disitu saja, di tahun 2008 musik andre mulai mengepakkan sayap ke negara tetangga dengan meluncurkan album dengan edisi terbatas yang judul Two Sides For Every Story. Diakhir 2009, sebuah album dirilis lagi dengan judul Good For The Soul dan mendapat sebuah nominasi di Indonesia Cutting Edge Music Award (ICEMA) dan Anugerah Musik Indonesia (AMI) yang juga masuk dalam jajaran 20 album terbaik Indonesia tahun 2009 versi majalah musik bergengsi di Indonesia.
Andre yang juga berprofesi sebagai Audio Engineer ini telah banyak memberi sentuhan-sentuhan cerdasnya kepada musik-musik indonesia seperti Gugun Blues Shelter, Adhitia Sofyan, Leonardo Ringgo, Bonita & The Hus Band, The Flower, The Milo, Super Glad dan masih banyak lagi nama-nama musisi tanah air yang pernah ditanganinya.
Buat yang penasaran sama single baru Andre Harihandoyo yang dia keluarkan agustus 2010 kemarin bisa coba putar dibawah.
Lagu yang berjudul Coco Papa Lala Dada ini bercerita tentang busuknya acara-acara televisi dinegara kita yang semuanya penuh dengan kebohongan. Semua dikemas secara cerdas dengan campuran antara Blues, Jazz dan renyahnya Balkan Folk. Cerdas.
Andre harihandoyo & sonic people - Coco Papa Lala Dada by bagusanugrah
Website : Andre Harihandoyo
Wednesday, 2 March 2011
Jónsi - Go | (semua dari hal kecil)
Para penggemar musik Post-Rock tentunya sudah tidak asing jika mendengan nama Jón “Jónsi” Þór Birgisson atau yang lebih akrab dikenal dengan nama Jonsi. Vokalis sekaligus gitar dari band Sigur Rós ini mempunyai kebutaan pada mata kanannya dan juga dia mempunyai prilaku sex menyimpang dengan menjadi seorang homosexsual bersama Alex Somers yang menjadi pasangannya. Alex Somers yang juga seorang seniman telah banyak membantu banyak hal dalam pembuat artwork untuk Sigur Rós dan mereka (jonsi & Alex) juga membuat sebuah kolaborasi seni yang disebut Jónsi & Alex. Pada akhir 2006, tepatnya bulan november, Jónsi & Alex resmi merilis buku pertama mereka dengan hardcover yang timbul secara terbatas dengan jumlah hanya 1.000 copy. Dan selang satu setengah tahun tepatnya juli 2009, mereka merilis album dengan judul "Riceboy Sleeps".
Tidak lama setelah Jonsi & Alex merilis album pertama mereka, Jonsi mengumumkan lewat official websitenya bahwa dia akan bersolo karir dan segera mengeluarkan album, dan album itu pun resmi beredar dipasar pada bulan april 2010 tahun lalu. Kalian sepertinya bertanya-tanya "kemana Sigur Ros pada 2 tahun belakangan ini?" yap, pada bulan januari 2010 Jonsi mengumumkan kepada publik bahwa Sigur Ros telah membatalkan rencana untuk mengeluarkan album yang seharusnya dirilis tahun 2010. Jonsi berkata "They ware just rumors", lantaran para anggota Sigur Ros banyak yang baru mendapatkan momongan atau sibuk mengurus kelahiran anak-anak mereka yang tentunya moment-moment itu tidak akan dilewatkan bagi seorang ayah dan ditambah dengan kesibukan Jonsi untuk pengembangan album solo-nya itu.
Dialbum Go dari proyek solonya ini jonsi memberikan sembilan lagu yang cukup unik karena dia menggabungan banyak instrumen dengan nuansa folk yang cukup kental dengan sentuhan ambient dan post-rock dibeberapa lagu yang mungkin itu mengadopsi dramatisasi dari Sigur Ros. Kepadatan musik Jonsi yang di-isi dengan seruling, piano, terompet dan string ini bisa dibilang sukses memikat para penggemar Sigur Ros, kalian bisa coba dengarkan lagu Animal Arithmetic yang cukup memanjakan telinga dengan berbagai instrumen dan vokal falseto ala Jonsi. (lagu favorit :P)
Dilagu "Shinking Friendship" Jonsi menuangkan syair bertuliskan "No one knows you 'till it's over" yang dilanjutkan dengan mengubahnya menjadi "You know no one true 'till it's over". Yang saya tangkap adalah Jonsi tidak mengenal kata kompromi untuk hidup, semua sudah jelas mengapa dia memakai bahasa inggris hampir diseluruh syairnya lantaran ingin memberikan pesan bahwa tidak ada ruang yang cukup untuk hal-hal kecil didunia ini, karena itu dia mampu menaklukan dunia melalui musik dari persepsinya, jadi album "Go" adalah jelas berartikan "Pergi". bagus.
Release
2010
Genre
Indie Rock, Folk, Alternative, Orchestral, Ambient, Post-Rock
Tracklist
01. Go Do
02. Animal Arithmetic
03. Tornado
04. Boy Lilikoi
05. Sinking Friendships
06. Kolniður
07. Around Us
08. Grow Till Tall
09. Hengilás
2010
Genre
Indie Rock, Folk, Alternative, Orchestral, Ambient, Post-Rock
Tracklist
01. Go Do
02. Animal Arithmetic
03. Tornado
04. Boy Lilikoi
05. Sinking Friendships
06. Kolniður
07. Around Us
08. Grow Till Tall
09. Hengilás
Monday, 28 February 2011
Something El - Tragically Romantic | Seperti Terburu-buru
Something El, band asal jakarta ini terbentuk pertengahan 2009 yang hanya mempunyai dua personil yaitu Ladrina Bagan (vokal) dan Lutphi Almanfaluthi (guitar, keyboard). Dengan mengangkat konsep akustik band, mereka terus berkarya, hingga pada bulan febuari 2011 mereka mengeluarkan album pertama mereka dengan judul "Tragically Romantic". Ladrina Bagan, mengatakan cinta dalam karya Something El merupakan sebuah perpaduan yang dapat dikatakan sempurna, dengan racikan yang tepat pula segar. Jika bisa diibaratkan, kisah cinta dalam Tragically Romantic Something El merupakan kombinasi rasa sempurna dalam secangkir kopi: sedikit pahit, namun diminati dan tetap mampu dinikmati setiap saat.
Sayangnya album yang berisi 11 lagu ini masih terbilang kurang matang jika dilihat dari konsep yang mereka eksekusi. Lagu pertama sebagai pembuka dialbum ini berjudul "Something Else", yang memperdengarkan suara gitar akustik khas dari Something El dengan backsound yang cukup dominan dan disusul dengan percakapan tentang ketulusan cinta. Namun itu terdengar sangat biasa dan kurang mampu menciptakan suasana yang "bercerita". Pemilihan karakter sound yang lembut dialbum ini terdengar seperti bermain aman untuk band-band berformat akustik yang seharusnya bisa lebih dari apa yang mereka berikan dialbum ini.
Kesederhanaan lirik yang mereka tuangkan di album ini menjadi salah satu kekuatan dan kelemahan bagi Something El sendiri. Kesederhanaan lirik yang tertuang mendekatkan Something El dengan penikmat musik mereka tentang realitas yang dikemas dengan bahasa sederhana ala Something EL. Namun saya kurang suka dengan album yang masih mencampurkan bahasa indonesia dengan bahasa asing atau terdapat dua bahasa dalam satu album, terkesan seperti ragu-ragu dalam pengambilan sebuah konsep band secara keseluruhan.
Masuk kemasalah artwork yang mereka pakai dialbum ini, mereka seperti buru-buru dalam pengerjaannya, terlihat dari pemilihan font, gambar, foto dan komposisi penempatannya yang dipakai, sedikit sulit untuk memahami hubungan antara artwork yang dipakai dengan tema keseluruhan album ini. bagus
Masuk kemasalah artwork yang mereka pakai dialbum ini, mereka seperti buru-buru dalam pengerjaannya, terlihat dari pemilihan font, gambar, foto dan komposisi penempatannya yang dipakai, sedikit sulit untuk memahami hubungan antara artwork yang dipakai dengan tema keseluruhan album ini. bagus
foto oleh Something el
Wednesday, 23 February 2011
Born Of Osiris - The Discovery (most heavy & most technical)
Satu lagi yang membuat saya senang dibulan ini adalah keluarnya album baru dari band Progresif Metal asal Chicago, Born Of Osiris. Mereka telah resmi merilis album ketiga mereka pada tanggal 22 maret 2011 kemarin, album yang diberi judul "The Discovery" ini masih tetap bekerjasama bersama Summerian Record, seperti 2 album sebelumnya The New Reign(2007) dan A Higher Place (2009).
Walaupun saya belum mempunyai album The Discovery ini, tapi saya sudah coba mendengarkan 3 lagu yang statusnya hanya preview di iTunes. Yap, bisa saya katakan musik mereka telah berkembang lagi menjadi sedikit dewasa dibanding album sebelumnya, yang saya anggap sedikit monoton dibanding album pertama yang begitu ber-experimental pada sound dan komposisi tataan nada. Hal itu mungkin dikarenakan perubahan gitar yang menjadi "seven strings", saya menganggap di album A Higher Place, mereka kurang berhasil mencari karakter dengan perpindahan ke gitar "seven string-nya" itu. tetapi setelah saya mendengar 3 lagu baru ini, saya anggap mereka telah berhasil menjadikan album baru mereka lebih berat, lebih teknikal dan sangat ber-atmosfir.
Tetapi ingat, itu hanya prediksi saya dari 3 lagu dari album baru mereka yang statusnya masih preview (setengah durasi asli) di iTunes lho. hehehe
Born Of Osiris juga telah menyiapkan tur untuk promo album mereka dengan judul "Atticus Metal" yang digarap bersama Darkest Hour, As Blood Runs Black dan The Human Abstract.
kalo mau denger beberapa single dari album The Discovery ini, kalian bisa coba melalui iTunes Store ya kawan. :D
Walaupun saya belum mempunyai album The Discovery ini, tapi saya sudah coba mendengarkan 3 lagu yang statusnya hanya preview di iTunes. Yap, bisa saya katakan musik mereka telah berkembang lagi menjadi sedikit dewasa dibanding album sebelumnya, yang saya anggap sedikit monoton dibanding album pertama yang begitu ber-experimental pada sound dan komposisi tataan nada. Hal itu mungkin dikarenakan perubahan gitar yang menjadi "seven strings", saya menganggap di album A Higher Place, mereka kurang berhasil mencari karakter dengan perpindahan ke gitar "seven string-nya" itu. tetapi setelah saya mendengar 3 lagu baru ini, saya anggap mereka telah berhasil menjadikan album baru mereka lebih berat, lebih teknikal dan sangat ber-atmosfir.
Tetapi ingat, itu hanya prediksi saya dari 3 lagu dari album baru mereka yang statusnya masih preview (setengah durasi asli) di iTunes lho. hehehe
Born Of Osiris juga telah menyiapkan tur untuk promo album mereka dengan judul "Atticus Metal" yang digarap bersama Darkest Hour, As Blood Runs Black dan The Human Abstract.
kalo mau denger beberapa single dari album The Discovery ini, kalian bisa coba melalui iTunes Store ya kawan. :D
Protest The Hero – Scurrilous
Setelah sukses dengan album Kezia di tahun 2006 dan Fortress pada januari 2008, Protest The Hero(PTH), Progresive Metal band asal kanada ini telah menyelesaikan rekaman untuk album ke-tiga mereka yang berjudul Scurrilous, yang baru saja di rilis 22 Maret 2011 kemarin. Proses rekaman yang telah dimulai dari akhir agustus 2010 ini berisi 10 lagu yang penuh dengan lead gitar dan beat drum khas Progresif metal dibalut suara vokal yang melengking.
Lagu pertama di album Scurrilous berjudul "C’est La Vie", yang berdurasi 03:33 menit ini sangat kental dengan sentuhan fusion jazz, setidaknya itu susunan yang tepat untuk mengobati kesabaran para penggemar dengan menyajikan lagu yang cukup kompleks dan kaya akan nada di lagu pertama album ini. Masuk dilagu kedua yaitu Hair-Trigger, PTH dibantu oleh Jaeda Kelly yang juga sebelumnya juga pernah terlibat di album Kezia dengan mengisi suara di lagu "The Devine Suicide of K". Di lagu kedua ini PTH agak sedikit bermain grove yang patah-patah diawal lagu dan banyak bernyanyi lepas bebas di-iringin dengan lead arpegio yang sangat khas dari Luke Hoskin. Memasuki menit terakhir, Jaeda Kelly bernyanyi dengan nada tinggi yang tidak lama disusul oleh Rody Walker dan mereka bernyanyi bersama sebelum lagu ini berakhir dengan ketukan yang tidak beraturan, ciri dari musik progresif.
Lagu pertama di album Scurrilous berjudul "C’est La Vie", yang berdurasi 03:33 menit ini sangat kental dengan sentuhan fusion jazz, setidaknya itu susunan yang tepat untuk mengobati kesabaran para penggemar dengan menyajikan lagu yang cukup kompleks dan kaya akan nada di lagu pertama album ini. Masuk dilagu kedua yaitu Hair-Trigger, PTH dibantu oleh Jaeda Kelly yang juga sebelumnya juga pernah terlibat di album Kezia dengan mengisi suara di lagu "The Devine Suicide of K". Di lagu kedua ini PTH agak sedikit bermain grove yang patah-patah diawal lagu dan banyak bernyanyi lepas bebas di-iringin dengan lead arpegio yang sangat khas dari Luke Hoskin. Memasuki menit terakhir, Jaeda Kelly bernyanyi dengan nada tinggi yang tidak lama disusul oleh Rody Walker dan mereka bernyanyi bersama sebelum lagu ini berakhir dengan ketukan yang tidak beraturan, ciri dari musik progresif.
Sedikit informasi bahwa Jedea Kelly adalah seorang musisi folk yang berasal dari kanada yang sempat mendapat penghargaan sebagai "Best Country" di toronto music award pada tahun 2008.
Dilagu "Sex Tapes" yang berdurasi 04.41 menit ini saya cukup dibuat kagum dengan susunan dan permainan nada dari PTH yang bisa dibilang cerdas. Tidak sampai disitu saja ke-gila-an dari band ini, belum puas dengan kolaborasi bersama penyanyi folk, PTH juga berkolaborasi dengan penyanyi dari grup band punk asal kanada yang terkenal dengan gaya hidup vegetarian dan kampanye tentang hak-hak binatang, yap dia adalah Chriss Hanna dari Propagandhi. Suara khas ala Punk Hardcore yang berat dari Chirss Hanna membuat lagu terasa semakin layak untuk diberikan 2 jempol.
Selebihnya kalian bisa dengar sendiri ya dari pada baca review saya terus. :) bagus.
| Kover album dilukis langsung oleh kakek dari Arif Mirabdolbagghi, Jafar Petgar yang berusia 60 tahun. |
Track List:
1. "C’est La Vie" - 3:33
2. "Hair-Trigger" - 4:48
3. "Tandem" - 5:12
4. "Moonlight" - 4:48
5. "Tapestry" - 4:29
6. "Dunsel" - 4:52
7. "The Reign of Unending Terror" - 3:25
8. "Termites" - 3:56
9. "Tongue-Splitter" - 4:34
10. "Sex Tapes" - 4:41
1. "C’est La Vie" - 3:33
2. "Hair-Trigger" - 4:48
3. "Tandem" - 5:12
4. "Moonlight" - 4:48
5. "Tapestry" - 4:29
6. "Dunsel" - 4:52
7. "The Reign of Unending Terror" - 3:25
8. "Termites" - 3:56
9. "Tongue-Splitter" - 4:34
10. "Sex Tapes" - 4:41
Genre : Progresif Metal, Mathcore, Metalcore, Hardcore Punk (awal terbentuk)
Tahun Aktif : 1999 - sekarang
Lebel : Vargant, Underground Operations
member : Rody Walker, Tim Millar, Luke Hoskin, Arif Mirabdolbaghi, Moe Carlson.
Tuesday, 22 February 2011
Pagi Yang Indah - Four On The Floor
kata "disko" mungkin udah ga asing ditelinga kalian.
dipengaruhi oleh musik funk dan soul, khas vokal bergema dengan nada "four on the floor" beat ini merupakan ciri khas dari musik disko. dengan membuat suara latar belakang yang ramai dari beberapa Instrumen Orkestra seperti Flute yang sering dijadikan sebagai melodi solo, tidak seperti musik rock, lead gitar jarang digunakan dimusik ini.
band purwokerto yang satu ini masih ada hubungannya sama disko lho.
tapi genre musik mereka bukan disko, melainkan Post-punk revival, yang terlahir dari band-band indie atau alternative yang mengedepankan unsur post-punk didalam musiknya. berdasarkan era mungkin band yang lahir di era setelah post-punk itu yaitu tahun 70-80an bisa dikategorikan Post-punk revival, band yang terbentuk dan mencampurkan elemen post-punk di tahun 2000an bisa masuk ke kategori ini.
Tau gimana musik post-punk revival ini?
kalo kalian tau band asal glasgow, skotlandia yang menjadi salah satu influence PYI (pagi yang indah). Franz ferdinand juga bisa disebut post-punk revival.
jadi udah ada sedikit bayangan kan gimana musik yang dimainkan sama PYI ini.
emang ga sama persis kaya Franz ferdinand bahkan bisa dibilang berbeda. karna Deskon (vokal,gitar) yang mempunyai ide pertama untuk memainkan genre ini dengan meniru musik Franz ferdinand tapi "aku terinfluence banget sama franz ferdinand, tapi ketika bikin lagu malah sama skali ga mirip franz ferdinand. jadi kaya the rapture + the virgins (New York) ditambah bumbu dari The Faint" ujar deskon, saat wawancara dikebon kafe selasa 5 januari 2009 kemarin.
seiringnya band ini berjalan, mereka keluarin apa yang mereka punya aja, jadi udah ga berpatokan lagi sama band lain maupun Post-punk revival tapi Pagi Yang Indah menyebut musik mereka dengan nama Rock-Disko.
Pemikiran membuat band beraliran Rock-Disko ini terlahir sekitar tahun 2004, tapi baru terealisasikan sekitar 2008 akhir. karna dianggap beda banget dengan aliran musik kebanyakan, bahkan untuk dikota purwokerto ini PYI adalah band pertama yang membawakan Rock-Disko, dengan formasi awal Deskon (vokal,gitar) haris (gitar) riki (vokal,bass) dan kemal sebagi drumer sementara. pengalaman manggung pertama kali PYI di acara Big Day Out fakultas ekonomi unsoed dan mengikuti parade yang menetapkan PYI sebagai band terbaik di acara itu.
pergantian personil sudah mewarnai band yang bisa dibilang baru ini. karna kemal sebagai drumer sementara sibuk dengan bandnya, dan dimas yang semula menempati posisi drum pada PYI juga sibuk. maka kemal masuk lagi untuk membantu mengisi posisi drum yang kosong, tapi tetap sebagai drumer sementara sampai saat ini.
Untuk seukuran band baru, pengalaman main diluar kotapun mereka sudah rasakan di dua kota yang berbeda yaitu solo dan jogja. termasuk cepat juga karna dari pertama terbentuk band ini sekitar mei 2009 sampai akhir tahun mereka udah pernah ngerasain main keluar kota dua kali. mereka pun ga sadar kalo ternyata perkembangan band ini sangat cepat. perkembangan PYI mereka sadari sewaktu main disolo, mereka ditanya setelah selesai manggung oleh pembawa acara "band kalian udah berapa tahun sih?" dan PYI menjawab baru setengah tahun kok.wow
Soal nama mungkin kalian banyak yang bertanya. Kenapa nama bandnya Pagi Yang Indah?
kata deskon selaku pemberi nama band ini mengaku dari dulu pengen banget punya nama band yang diambil dari judul lagu, dan Pagi yang indah merupakan salah satu judul lagu dari grup musik pop legendaris indonesia yaitu Koesplus.
Saat ini PYI sedang konsen untuk mempersiapkan demo lagu mereka, yang nantinya akan disebar keluar kota untuk sedikit mengenal musik mereka dan pastinya sebagai bentuk karya dari sebuah band. ga cuma demo aja lho yang mereka siapkan, tapi sebuah mini album pun sedang dipersiapkan untuk pertengahan tahun 2010 ini. untuk acara launcingnya pun mereka bakal adain ga cuma di purwokerto aja, tapi diluar kota juga dan pastinya mereka sedang mengincar massa dari kota semarang. (Bagus, Wednesday, March 17, 2010 at 4:40pm)
vokal - gitar - keyboard : deskon chan
gitar : haris chan
bass : ricky chan backing vocal
drum : additional (kemal)
dipengaruhi oleh musik funk dan soul, khas vokal bergema dengan nada "four on the floor" beat ini merupakan ciri khas dari musik disko. dengan membuat suara latar belakang yang ramai dari beberapa Instrumen Orkestra seperti Flute yang sering dijadikan sebagai melodi solo, tidak seperti musik rock, lead gitar jarang digunakan dimusik ini.
band purwokerto yang satu ini masih ada hubungannya sama disko lho.
tapi genre musik mereka bukan disko, melainkan Post-punk revival, yang terlahir dari band-band indie atau alternative yang mengedepankan unsur post-punk didalam musiknya. berdasarkan era mungkin band yang lahir di era setelah post-punk itu yaitu tahun 70-80an bisa dikategorikan Post-punk revival, band yang terbentuk dan mencampurkan elemen post-punk di tahun 2000an bisa masuk ke kategori ini.
Tau gimana musik post-punk revival ini?
kalo kalian tau band asal glasgow, skotlandia yang menjadi salah satu influence PYI (pagi yang indah). Franz ferdinand juga bisa disebut post-punk revival.
jadi udah ada sedikit bayangan kan gimana musik yang dimainkan sama PYI ini.
emang ga sama persis kaya Franz ferdinand bahkan bisa dibilang berbeda. karna Deskon (vokal,gitar) yang mempunyai ide pertama untuk memainkan genre ini dengan meniru musik Franz ferdinand tapi "aku terinfluence banget sama franz ferdinand, tapi ketika bikin lagu malah sama skali ga mirip franz ferdinand. jadi kaya the rapture + the virgins (New York) ditambah bumbu dari The Faint" ujar deskon, saat wawancara dikebon kafe selasa 5 januari 2009 kemarin.
seiringnya band ini berjalan, mereka keluarin apa yang mereka punya aja, jadi udah ga berpatokan lagi sama band lain maupun Post-punk revival tapi Pagi Yang Indah menyebut musik mereka dengan nama Rock-Disko.
Pemikiran membuat band beraliran Rock-Disko ini terlahir sekitar tahun 2004, tapi baru terealisasikan sekitar 2008 akhir. karna dianggap beda banget dengan aliran musik kebanyakan, bahkan untuk dikota purwokerto ini PYI adalah band pertama yang membawakan Rock-Disko, dengan formasi awal Deskon (vokal,gitar) haris (gitar) riki (vokal,bass) dan kemal sebagi drumer sementara. pengalaman manggung pertama kali PYI di acara Big Day Out fakultas ekonomi unsoed dan mengikuti parade yang menetapkan PYI sebagai band terbaik di acara itu.
pergantian personil sudah mewarnai band yang bisa dibilang baru ini. karna kemal sebagai drumer sementara sibuk dengan bandnya, dan dimas yang semula menempati posisi drum pada PYI juga sibuk. maka kemal masuk lagi untuk membantu mengisi posisi drum yang kosong, tapi tetap sebagai drumer sementara sampai saat ini.
Untuk seukuran band baru, pengalaman main diluar kotapun mereka sudah rasakan di dua kota yang berbeda yaitu solo dan jogja. termasuk cepat juga karna dari pertama terbentuk band ini sekitar mei 2009 sampai akhir tahun mereka udah pernah ngerasain main keluar kota dua kali. mereka pun ga sadar kalo ternyata perkembangan band ini sangat cepat. perkembangan PYI mereka sadari sewaktu main disolo, mereka ditanya setelah selesai manggung oleh pembawa acara "band kalian udah berapa tahun sih?" dan PYI menjawab baru setengah tahun kok.wow
Soal nama mungkin kalian banyak yang bertanya. Kenapa nama bandnya Pagi Yang Indah?
kata deskon selaku pemberi nama band ini mengaku dari dulu pengen banget punya nama band yang diambil dari judul lagu, dan Pagi yang indah merupakan salah satu judul lagu dari grup musik pop legendaris indonesia yaitu Koesplus.
Saat ini PYI sedang konsen untuk mempersiapkan demo lagu mereka, yang nantinya akan disebar keluar kota untuk sedikit mengenal musik mereka dan pastinya sebagai bentuk karya dari sebuah band. ga cuma demo aja lho yang mereka siapkan, tapi sebuah mini album pun sedang dipersiapkan untuk pertengahan tahun 2010 ini. untuk acara launcingnya pun mereka bakal adain ga cuma di purwokerto aja, tapi diluar kota juga dan pastinya mereka sedang mengincar massa dari kota semarang. (Bagus, Wednesday, March 17, 2010 at 4:40pm)
vokal - gitar - keyboard : deskon chan
gitar : haris chan
bass : ricky chan backing vocal
drum : additional (kemal)
Sunday, 20 February 2011
Iron Maiden - The Final Frontier World Tour 2011 (Tetapi beribu-ribu tapi. . .)
Jakarta 17 febuari 2011, adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh seluru pecinta musik metal ditanah air pun tiba. Bagaimana tidak, band legendaris asal inggris Iron Maiden mengikutsertakan Indonesia kedalam rangkaian "The Final Frontier World Tour", selain di Jakarta mereka juga akan melakukan konsernya di Bali pada tanggal 20 febuari. Saya sebagai salah satu pecinta musik metal pun tentunya tidak akan melewatkan konser yang satu ini dong. Walaupun tidak begitu mengerti banyak tentang lagu-lagu Iron Maiden saya tetap ingin menjadi salah satu bagian dari sejarah pagelaran musik di indonesia dengan diadakannya konser ini. Memang saya bukan apa-apa jika dibanding dengan para penggemar lainnya yang jauh sebelum saya dilahirkan sudah mendengarkan musik Iron Maiden.
Awalnya konser ini akan diadakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, stadion kebanggaan Indonesia yang dulu juga sempat digunakan oleh Deep Purple dan Mick Jagger untuk konser mereka di Indonesia. Tapi enatah kenapa venue dipidahkan ke Carnaval Beach Ancol. tapi sepertinya itu bukan menjadi masalah besar selama konser ini tetap dilaksanakan.
Saya tiba di Carnaval Beach Ancol tepat pukul 19.30, dan tentunya tidak langsung masuk, karena tiket masuk dipegang oleh teman saya (baca: dapet gratisan di venue). Seperti biasa, entah kenapa kalau di Indonesia ada konser musik yang penontonnya mencapai ribuan pasti kalian akan sangat kesulitan menggunakan perangkat genggam kalian. Yap HP jadi sulit untuk menerima telpon dan sms. itulah yang membuat saya tidak sempat menonton Band pembuka Iron Maiden yaitu Rise To Remain, Band Metalcore asal Inggris yang dimotori langsung oleh Austin Dickson, anak dari Bruce Dickson. karena saya belum berada di venue saat Rise To Remain naik panggung, jadi kita lewatkan saja.
Kurang lebih waktu menunjukan jam 9 dan tiket sudah ditangan, saya tanpa pikir panjang langsung memasuki vanue dengan berbagai pertanyaan, "gimana ya si iron Maiden itu kalo manggung". Dan saat saya melihat langsung...wow tata panggungnya benar-benar matang dan itu sangat berbeda dari band-band yang pernah saya tonton. Di setiap lagu, latar belakang panggung terus berganti-ganti gambar dari berbagai art work cover album Iron Maiden yang ukurannya tidaklah kecil.
Tetapi beribu-ribu tapi . . . . Sound yang dikeluarkan malam itu terdengar seperti menggelombang naik turun tidak stabil, entah itu karena saya berada di festival B yang cukup jauh dari panggung atau dikarenakan angin yang bisa dikatakan cukup kencang pada malam itu membuat sound menjadi bergelombang tidak karuan. apalagi itu di daerah pantai. Kalian tahu kan bagaimana angin pantai dimalam hari apalagi didukung dengan cuaca jakarta yang sedang ektrim. Setidaknya saya belum bisa mengatakan konser ini berjalan sempurna 100% karna hal itu. salam metal :P
maaf foto-foto dari jauh semua, ga dapet akses penuh sih. :D
Regina Spektor - Us (Hidup Jangan Terlalu Serius)
| by Google |
| Add caption |
Satu lagu yang sering saya dengar di minggu-minggu ini adalah dari album Soviet Kitsch yang berjudul "Us", oh itu sungguh menawan, baik dari segi penataan musik yg indah dan lirik yang cerdas. Musik yang dimulai dengan Quartet String ini tidak lama langsung diikuti dengan lirik "They made a statue of us, and put it on a moutain top", dengan maksud bahwa kalian yang sedang dalam percintaan itu menjadi orang yang terpenting dimuka bumi ini. dan kalimat "give us a talking to" mungkin mewakili Orang Tua kita yang mempunyai sejuta pengalaman tentang hal ini, namun dalam hal ini Regina tidak memperdulikannya karena dia sedang tergila-gila dengan kata Cinta. Lalu dia menulis "Rummaging for answers in the pages" adalah suatu pencarian disetiap halaman buku-buku yang tidak pernah menyediakan jawaban atas kehidupan, namun bagi kita yang masih muda harus terus mencari hal baru dan terus bereksperimen dengan ide-ide segar.
Dan bait yang paling saya suka adalah "Our noses have begun to rust", yap itu hanya sebuah ungkapan secara humor yang mengisyaratkan ketidak sempurnaan dan pernyataan bahwa kita dalam menjalani hidup janganlah terlalu serius. it's wonderful that a simple song like this can mean so much to so many different people. bagus.
Us
They made a statue of us
and put it on a mountaintop
Now tourists come and stare at us
Blow bubbles with their gum, take photographs of fun
have fun
they'll name a city after us
and later say it's all our fault
then they'll give us a talking to
then they'll give us a talking to
cause they've got years of experience
we're living in a den of thieves
rummaging for answers in the pages
we're living in a den of thieves
and it's contagious
and it's contagious
and it's contagious
and it's contagious
we wear our scarves just like a noose
but not cause we want eternal sleep
and though our parts are slightly used
new ones are slave labor you can keep
we're living in a den of thieves
rummaging for answers in the pages
we're living in a den of thieves
and it's contagious
and it's contagious
and it's contagious
and it's contagious
They made a statue of us
They made a statue of us
The tourists come and stare and us
The sculptor's momma sends regards
They made a statue of us
They made a statue of us
Our noses have begun to rust
we're living in a den of thieves
rummaging for answers in the pages
we're living in a den of thieves
and it's contagious
and it's contagious
and it's contagious
and it's contagious
and it's contagious
and it's contagious
and it's contagious
and it's contagious
and put it on a mountaintop
Now tourists come and stare at us
Blow bubbles with their gum, take photographs of fun
have fun
they'll name a city after us
and later say it's all our fault
then they'll give us a talking to
then they'll give us a talking to
cause they've got years of experience
we're living in a den of thieves
rummaging for answers in the pages
we're living in a den of thieves
and it's contagious
and it's contagious
and it's contagious
and it's contagious
we wear our scarves just like a noose
but not cause we want eternal sleep
and though our parts are slightly used
new ones are slave labor you can keep
we're living in a den of thieves
rummaging for answers in the pages
we're living in a den of thieves
and it's contagious
and it's contagious
and it's contagious
and it's contagious
They made a statue of us
They made a statue of us
The tourists come and stare and us
The sculptor's momma sends regards
They made a statue of us
They made a statue of us
Our noses have begun to rust
we're living in a den of thieves
rummaging for answers in the pages
we're living in a den of thieves
and it's contagious
and it's contagious
and it's contagious
and it's contagious
and it's contagious
and it's contagious
and it's contagious
and it's contagious
Thursday, 17 February 2011
Metafora Penghancuran Diri {Modest Mouse - The Whale Song}
Pertama saya mau mengucapkan jujur dari dalam hati saya kalau lagu ini (The Whale Song) sangat menabjukan. Dimulai dari beberapa menit yang mereka berikan kepada pendengar dengan instrument yang terdengar malas seperti melodi dengan pitch yang bergelombang dibalut jelasnya suara gitar bass dari Eric Judy.
Membaca lirik yang ada dilagu ini sudah tampak jelas bahwa penggambaran tentang se-ekor ikan paus yang biasa berenang dengan bahagia di lautan yang sangat akrab dengan mereka tetapi suatu ketika mereka tertangkap oleh nelayan tetapi mereka terus berusaha mencari jalan keluar.
Issac Brock (singer/lyricist/guitarist) bercerita bahwa Ikan Paus yang dimaksud dilirik yang dia tulis ini adalah Modest Mouse. Ikan paus yang berenang dengan bebas dan bahagia itu ternyata akan selalu di-ikuti oleh serangan dari pemburu yang bisa dikatakan sebagai popularitas. Mereka (ikan Paus) tidak mempunyai pilihan lain selain dipaksa untuk keluar dari perairan yang akrab dengan mereka dan yang pasti mereka itu dimanfaatkan. Issac menceritakan bahwa mereka benar-benar tidak mempunyai pilihan yang pantas untuk diambil sebagai langkah, namun dalam retrospeksi, dia berharap menemukan jalan keluarnya.
Lagu The Whale Song yang menjadi single pertama dari album "No One's First and You're Next" yang juga menjadi lagu pertama di album ini yang dibuatkan official video musik-nya.
Video yang digarap dengan serius oleh Bent Image Lab Animator Studio dengan Director Nando Costa ini dimulai dari seseorang yang berjalan menuju meja yang terdapat sebuah alat yang digerakan dengan cara memasukan tangan disela-sela mesin itu, seperti menyuntikan sesuatu dan keluarlah benang yang panjang. Cerita terus berkemabang sampai mengungkapkan bahwa dunia itu terbagi menjadi dua bagian, realita yang membosankan dan kesenangan yang menyesatkan. Sampai pada akhirnya terjebak dalam ruang yang menimbulkan kematian dan metafora penghancuran diri.
"Whale Song" for Modest Mouse from Bent Image Lab on Vimeo.
Inilah pendapat saya tentang lagu, lirik, dan konsep video yang ada didalamnya.(bagus)
website : www.modestmousemusic.com/
Wednesday, 16 February 2011
sunn o))) - Konseptualisasi dan Sejuta Ekperimen
Hal yang membuat saya ingin mencoba mendengarkan musik dari Sunn O))) (baca: SUN) adalah konsep keseluruhan dari band ini yang tergolong cukup matang. yuk mulai...
Sunn O))) merupakan sebuah proyek kolaborasi dari Stephen O' Malley (Khanate, Burning Witch, SARIN, Teeth of Lions Rule the Divine, Lotus Eaters, Ginnungagap, Thorr’s Hammer, Fungal Hex, KTL, Æthenor, Gravetemple) dan Greg Anderson (Goatsnake, Thorr’s Hammer, Burning Witch, Teeth of Lions Rule the Divine, Brotherhood, Engine Kid, FALSE LIBERTY, Burial Chamber Trio, Ascend) yang merupakan personil inti dari Sunn O))) ini sendiri.
Coba bayangkan apa kesan yang timbul dari musik mereka yang dipadu dengan kostum dan art perform yang sangat konseptualisasi seperti itu ???
Sun O))) sangat bereksperimen dengan gaya dan suara dari musik mereka, terlihat dari gaya bergitar di album The Demo Grimmrobe (1998) yang hanya di rilis 500 copy Hydra Head Records, tapi pada 2005 Southern Lord yang sekarang menjadi record label Sunn O))) merilis ulang dalam bentuk CD dan Vinyl.
yah, bisa saya katakan tanpa maksud melebih-lebihkan, Sunn O))) adalah band experimental sejati.
kenapa? Sunn O))) banyak melakukan kolaborasi dengan berbagai musik untuk memperkaya gaya musik mereka seperti menggabungkan musik Sunn O))) dengan dedengkot musik Harsh Noise dari jepang yaitu Merzbow. jika penasaran kalian bisa dengar di album Flight of The Behemoth. Tidak merasa puas dengan kolaborasi itu, Sunn O))) melanjutkan ekperimen musiknya itu dengan kolaborasi bersama Boris, band asal jepang dengan sejuta bakat musik yang pernah membawakan genre seperti Pshycadelic Rock, Punk, Sludge/Doom Metal, Minimalism dan Drone kedalam musik mereka. Dari proyek kolaborasi itu Sunn O))) dan Boris merilis album Altar pada 2006, jika kalian para pecinta Drone Doom dan Sludge metal, kalian harus mencicipi kedalaman musik mereka di album ini. sangat saya rekomendasikan. :)
| Sunn O))) & Boris |
_____________________________________________________________________________
Asal : Seattle, Washington, United States
Genre : Experimental, Drone Metal, Doom Metal.
Tahun Aktif : 1998 - sekarang
Lebel : Southern Lord
Kolaborasi : Burning Witch, Goatsnake, Khanate, Thorr's Hammer, Boris, Gravetemple, Burial Chamber Trio, KTL, Merzbow, Nurse with Wound
Member : Stephen O'Malley, Greg Anderson
Instrumen : Gitar Listrik
(bagus)
Subscribe to:
Posts (Atom)















